Tenganan

Tenganan merupakan kawasan wisata berupa desa tradional yang sangat terkenal karena tetap mempertahankan adat istiadatnya sebagai Bali Asli atau Bali Aga. Desa Tenganan terkenal juga dengan hasil kain tenunan yang disebut geringsing. Desa ini terletak di wilayah kecamatan Manggis, kabupaten Karangasem, berjarak sekitar 80 km dari Denpasar. Sebelum memasuki kawasan wisata Candi Dasa terdapat pertigaan di sebelah kiri jalan, dan dari pertigaan tersebut hanya berjarak sekitar 2 km untuk sampai ke desa Tenganan. Di kawasan ini terdapat 3 desa Tenganan antara lain desa Tenganan Pegeringsingan, desa Tenganan Dauh Tukad, dan desa Tenganan Dangin Tukad. Di antara ketiga desa tersebut, yang paling banyak dikunjungi wisatawan adalah desa Tenganan Pegeringsingan.

Secara geografis letak Tenganan dikelilingi oleh beberapa bukit dan hutan, sehingga membuat Tenganan berbeda dengan desa-desa yang lain. Desa-desa Tenganan memiliki aturan desa (awig-awig) yang harus dipatuhi oleh seluruh warga desanya. Keunikan yang terdapat di desa-desa Tenganan adalah bentuk perumahannya yang dikenal dengan nama perumahan karang. Setiap rumah warganya sejajar ke arah utara selatan dan semuanya menghadap ke jalan utama desa (awangan). Pada bagian belakang rumah ada lahan kosong atau halaman (teba). Di sepanjang jalan utama desa (terbuat dari bebatuan dan tanah dengan sedikit rerumputan) terdapat wantilan desa, bale agung, bale kulkul, bale pertemuan, bale banjar, dan bangunan suci. Bangunan-bangunan tradisional tersebut berbentuk seperti rumah panggung yang keseluruhannya terbuat dari kayu dengan atap alang-alang.

Kekhasan lain dari Tenganan adalah kain geringsing yang hanya diproduksi di Tenganan. Kain geringsing dibuat dari bahan kapas Bali yang dipintal sendiri oleh warga setempat. Setelah menjadi benang, bahan tersebut kemudian di-bebet menurut motifnya. Untuk bahan pewarnaannya berasal dari tumbuh-tumbuhan yang dicelupkan/direndam sekitar satu bulan. Lamanya waktu proses awal hingga kainnya (1,5 meter x 20 cm) siap dipakai, dibutuhkan waktu sekitar 3 bulan. Namun ada juga kain yang dibuat sampai puluhan tahun. Warga setempat menggunakan kain geringsing dipakai untuk keperluan upacara tradisional seperti Mulan Saat Usaba Kasa, Mulan Daha, Mekare-kare, dll. Selain digunakan sebagai pakaian, kain geringsing juga dapat digunakan sebagai hiasan dinding, selendang, dan keperluan lainnya. Motif kain geringsing beraneka ragam bentuknya antara lain seperti pepare, kebo, lubeng, pat likur, petang dasa, putri, cempaka, daun, dll. Motif-motif tersebut terdiri dari 3 warna yaitu merah (mencerminkan Dewa Brahma), warna putih (mencerminkan Dewa Wisnu), dan warna hitam (mencerminkan Dewa Siwa). Selain kain geringsing, kerajinan khas desa Tenganan adalah anyaman yang terbuat dari pohon ate dan kerajinan lontar yang berbentuk kalender Bali dan cerita Ramayana.

Sebagai desa Bali Aga, Tenganan menyimpan banyak tradisi unik seperti kekuasaan desa adat atas tanah atau yang disebut hak pertuanan desa. Tanah-tanah desa dikuasai sepenuhnya oleh desa adat untuk dimanfaatkan bagi kepentingan desa dan warganya. Setiap warga tidak boleh menjualnya kepada orang luar desa Tenganan. Selain itu, desa Tenganan memiliki atraksi budaya yang sering digelar saat upacara adat seperti upacara Mulan Saat Usaba Kasa yaitu pertunjukkan musik tradisional selonding sejenis orkestra, upacara Mulan Daha yaitu pertunjukkan di mana para muda-mudi desa Tenganan menampilkan busana kain geringsing, dan upacara yang paling terkenal adalah Mekare-kare yaitu pertunjukkan yang menampilkan antara dua lelaki yang sedang berperang dengan menggunakan pandan. Mekare-kare atau perang pandan dilakukan warga Tenganan pada setiap tahunnya sebagai cara untuk menunjukkan seorang pemuda yang telah dewasa. Mereka berperang dengan menggunakan pandan berduri yang dipukulkan kepada lawannya. Setiap peserta hanya mengenakan sarung (kamen) tanpa berbaju sehingga badannya mudah terluka dan berdarah.

Komentar