Taman Ujung

Taman Ujung adalah obyek wisata berupa istana air yang merupakan warisan kerajaan Karangasem. Obyek wisata ini berada di kawasan Ujung termasuk wilayah desa Tumbu, kecamatan Karangasem, kabupaten Karangasem. Taman Ujung yang luasnya sekitar 10 hektar terletak di sebelah tenggara kota Amlapura yang berjarak sekitar 10 km atau dari ibukota Denpasar berjarak sekitar 90 km.

Obyek wisata ini didirikan tahun 1919, pada masa kerajaan Karangasem yang dipimpin oleh Raja I Gusti Bagus Djelantik yang lebih dikenal dengan nama Agung Anglurah Ketut Karangasem. Namun sebelumnya sudah dibangun kolam Dirah oleh raja Karangasem pada tahun 1901, yang awalnya dipergunakan sebagai tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap bisa ngeleak. Lalu kolam tersebut ditambah dengan dua kolam lain dan juga dibangun beberapa tempat peristirahatan. Selain itu, dibangun pula Persemedian Raja dan Bale Kambang (Taman Gili). Pembangunan Taman Ujung dilakukan untuk dijadikan tempat peristirahatan dan tempat untuk menjamu tamu-tamu penting yang berkunjung ke kerajaan Karangasem. Pada tahun 1921, Taman Ujung secara resmi digunakan dan oleh pemerintahan Belanda saat itu diberi julukan water palace.

Taman Ujung merupakan kesatuan tempat di mana terdapat 3 buah kolam besar. Kolam yang berada di sebelah selatan letaknya terpisah dengan 2 kolam lain di utara dan luasnya sekitar 50 x 20 meter persegi. Pemandangan alam yang terlihat di Taman Ujung sangat mempesona, pemandangan di sebelah timur laut terdapat bukit Bisbis, sebelah selatan terlihat pantai Ujung dengan birunya air laut, pada bagian barat pemukiman penduduk, sedangkan pemandangan di bagian timur adalah persawahan dan ribuan pohon kelapa. Pada kolam yang berada di selatan terdapat bale bengong yang letaknya menjorok ke kolam sehingga terlihat seperti mengambang. Bale ini dibangun tanpa dinding, beratapkan genteng, dan berlantai keramik. Sedangkan dua kolam lain yang berada di sebelah utara dihubungkan dengan sebuah jembatan. Kolam-kolam tersebut luasnya hampir 2 kali lipat dari kolam yang ada di selatan.

Pada bagian tengah kolam terdapat sebuah tempat peristirahatan yang disebut Taman Gili. Bagi warga setempat menyebutnya dengan Istana Gantung karena bentuk bangunannya yang menggantung di atas air dan pada bagian dindingnya terdapat relief yang menggambarkan ceritera Mahabarata dan Ramayana. Struktur bangunan ini sangat khas yang merupakan perpaduan arsitektur Bali dan Eropa. Nuansa Eropa dapat terlihat pada kaca warna-warni di dinding Taman Gili yang sama seperti desain yang ada pada gereja-gereja di Eropa. Sebagai tempat peristirahatan, Taman Gili adalah semacam gedung dengan banyak jendela pada bagian timur dan barat bangunannya. Dari jendela tersebut dapat melihat kolam sekelilingnya yang penuh dengan bunga tanjung (lotus) yang berwarna merah muda dan putih. Di sebelah barat Taman Gili terdapat sebuah bale bengong yang letaknya lebih tinggi dari Taman Gili maupun kolam. Bale ini berbentuk bulat dengan diameter sekitar 5 meter dan atapnya terbuat dari asbes putih. Bale ini semakin ke bawah semakin lebar diameternya, sehingga dari kejauhan seperti puncak kerucut. Sebagai obyek wisata, pada bagian pojok barat laut Taman Ujung terdapat pondok penginapan (cottages) yang disediakan untuk pengunjung yang ingin bermalam. Selain itu, terdapat patung warak yang di bawahnya ada patung banteng. Dari mulut kedua patung tersebut, air memancur keluar menuju kolam. Tidak jauh dari kedua patung tersebut terdapat Pura Manikan yang dibangun bersamaan dengan Taman Ujung oleh raja Karangasem. Di pura ini terdapat mata air dan kolam yang sampai kini masih digunakan oleh umat Hindu dalam upacara Metirta Yatra. Selain adanya budaya Bali dan Eropa dalam arsitektur bangunannya, pada lingkungan sekitar taman ini memperlihatkan keharmonisan umat beragama. Karena di seberang Taman Ujung terdapat sebuah mesjid dan penduduk di sekitarnya yang umat Islam ikut pula menjaga keberadaan taman ini.

Taman Ujung mengalami beberapa peristiwa yang menyebabkan kondisinya menjadi rusak. Pada masa pendudukan Jepang di mana pagar besi taman ini mengalami kerusakan karena dicabut untuk dijadikan senjata perang. Kerusakan yang terparah ketika terjadi letusan Gunung Agung pada tahun 1963, gempa bumi di Seririt, Buleleng pada tahun 1976, sehingga hampir seluruh kondisi Taman Ujung menjadi hancur. Dan pada tahun 2000, Taman Ujung dibangun kembali (renovasi) oleh Puri Karangasem bersama Dinas Kebudayaan Bali dengan bantuan dana dari Bank Dunia.

Komentar