Pura Uluwatu

Pura Uluwatu berada di sebelah selatan kota Denpasar dengan jarak sekitar 32 km atau bila menggunakan kendaraan bermotor hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit. Berlokasi pada ujung selatan pulau Bali yang merupakan kawasan perbukitan batu karang, tepatnya di desa Pecatu yang termasuk kecamatan Kuta, Kabupaten Daerah Tingkat II Badung. Untuk mencapai Pura Uluwatu akan melalui sarana jalan yang cukup bagus dan melewati kawasan Taman Budaya GWK (Garuda Wisnu Kencana) serta kawasan Pecatu Indah Resort.

Pura Uluwatu menjadi salah satu kawasan wisata menarik dan unik karena selain menjadi tempat sembahyang atau pemujaan umum, juga terdapat kawasan hutan pada area sebelah timur, yang dihuni oleh ratusan kera yang cukup nakal. Untuk memasuki kawasan wisata Pura Uluwatu bagi setiap pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp. 3.000,- dan harus mengenakan sarung. Pihak pengelola kawasan wisata Uluwatu menyediakan fasilitas bagi para pengunjung antara lain area parkir yang luas, panggung pertunjukan, kios-kios cendera mata, warung makan, toilet, sarana informasi wisata dan fasilitas pemandu wisata lokal. Pihak pengelola juga menganjurkan setiap pengunjung untuk berhati-hati dengan barang-barang bawaan seperti alas kaki, topi, kaca mata, anting, kamera, handphone, tas/ransel, dll. Untuk berjalan menuju area pura akan menaiki tangga yang cukup tinggi dan bilamana dari pura menghadap ke barat maka akan terlihat pemandangan laut yang sangat indah, terlebih saat-saat menjelang matahari terbenam (sunset). Selain dapat menyaksikan pemandangan laut yang indah, dapat pula menyaksikan pagelaran tari Kecak yang digelar setiap hari pada pukul 18.00.

Sebagai tempat pemujaan umum bagi umat Hindu, Pura Uluwatu juga dikenal dengan nama lain yaitu Pura Luwur atau Pura Luhur, yang merupakan salah satu Pura Sad Khayangan di Bali seperti Pura Besakih, Pura Goa Lawah, Pura Batukaru, Pura Lempuyang dan Pura Bukit Pengalengan, yang berjumlah keseluruhannya ada enam buah. Keunikan Pura Uluwatu karena letaknya yang berada di ketinggian kurang lebih 70 meter di atas permukaan laut serta bangunannya yang menghadap ke timur, berbeda dengan pura-pura lainnya di Bali yang umumnya menghadap ke barat atau selatan. Pura Uluwatu memiliki Piodalan atau upacara peringatan hari jadinya yang jatuh pada hari Anggara Kasih, Wuku Medangsia yang berlangsung selama tiga hari. Pada hari peringatan itu berlangsung maka seluruh umat Hindu yang berada di sekitar pura akan datang beramai-ramai untuk bersembahyang memohon keselamatan lahir batin.

Berdasarkan sejarah, ada dua pendapat yang mengatakan bahwa berdirinya Pura Uluwatu oleh Empu Kuturan pada masa pemerintahan Marakata di abad IX. Pendapat lain mengatakan, pura ini dibangun oleh seorang pendeta penyebar agama Hindu yaitu Dang Hyang Nirartha / Pedanda Sakti Wau Rauh dari kerajaan Daha (Jawa Timur). Beliau bersama keluarganya datang ke Bali pada masa pemerintahan 'dalem waturenggong' sekitar tahun 1546 Masehi. Beliau mendirikan pura karena di tempat inilah beliau melakukan 'moksa' atau 'ngeluwur', sehingga masyarakat setempat menamakan pura ini adalah Pura Luwur Uluwatu.

Komentar