Pura Petitenget

Pura Petitenget terletak di Banjar Batu Belig, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, sekitar 9 km barat daya Kota Denpasar dengan jarak tempuh sekitar 20 menit menggunakan kendaraan bermotor dari Bandara ngurah Rai Bali. 

Pura Petitenget merupakan salah satu Pura Dhang Kahyangan yang ada di Bali.Pura ini menjadi objek wisata menarik dengan balutan alam dan arsitektur bangunannya yang unik. Saat upacara Piodalan atau hari ulang tahun pura masyarakat desa sekitar senantiasa melakukan perayaan di pura ini.

Pura Petitenget ini berdiri diatas tanah yang lebih tinggi sedangkan dibagian barat pura terdapat pantai Petitenget berpasir putih yang indah. Pada halaman luar pura terdapat teras yang cukup besar. Saat memasuki pura terlebih dahulu melewati beberapa anak tangga.. Didalam Pura ini terdapat tempat pemujaan untuk Dhang Hyang Dwijendra, Meru Tumpang Lima, Ida Luhuring Dalem Solo, Majapahit, Mekah. Catu Meres, Catu Mujung, Padma Campah, Naga Gombang dan Padmasana. Pura ini dijadikan salah satu tempat untuk meminta kerahayuan dan kesejahteraan bagi umat Hindu di Bali.

Pura Petitenget mulai dibangun sekitar abad XV, dan ada hubungannya dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirartha atau Dang Hyang Dwijendra, konon menurut cerita sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pura Uluwatu, Dhang Hyang Dwijendra sempat bertemu dan membicarakan banyak hal dengan Ida Batara Masceti di sekitar lokasi Pura Petitenget, disela sela pembicaraan tersebut Dhang Hyang Dwijendra melihat bayangan hitam yang bersembunyi semak-semak, setelah dipanggil dan disuruh keluar ternyata bayangan hitam itu adalah Bhuta Ijo. Karena ketahuan lagi mendengarkan pembicaraan akhirnya Bhuta Ijo di beri mandat dan kesaktian untuk menjaga peti pecanangan (tempat sirih) oleh Dhang Hyang Dwijendra. Setelah itu Dhang Hyang Dwijendra melanjutkan perjalanan menuju Uluwatu.

Suatu hari ada penduduk sekitar datang ke wilayah yang di jaga Bhuta ijo ini  dengan tujuan mencari kayu bakar, setelah pulang orang tersebut langsung jatuh sakit, ini berulang terjadi. Akhirnya kepala adat bersama bersama tokoh masyarakat menemui Dhang Hyang Dwijendra di Uluwatu mohon petunjuk. Saat bertemu bertemu Dhang Hyang Dwijendra kepala adat diberi tahu bahwa wilayah itu ditempati oleh Bhuta Ijo yang diberi mandat menjaga peti pecanangan-nya. Agar makhluk gaib itu tidak lagi mengganggu atau mengusik ketenangan masyarakat, disarankan untuk memberikan persembahan setiap Tilem Kawulu dan Purnama Kesanga dan dibuatkan bangunan suci untuk tempat Pemujaan Ida Bhatara Labuhan Masceti. sejak saat itu dibangun Pura Petitenget. (Peti artinya peti dan Tenget artinya angker jadi kalau dijabarkan Petitenget mempunyai pengertian  peti yang angker).

Pura Petitenget ini terawat baik bersih dan asri juga terdapat area parkir yang cukup luas di depan pura ini


 

Komentar