Pura Maospahit

 

Pura Maospahit merupakan salah satu pura peninggalan bersejarah yang berlokasi di Banjar Tatasan Kelod Kelurahan Tonja Kecamatan Denpasar Utara Bali, tepatnya di jalan Dr. Sutomokira kira 2 km ke arah timur laut dari Kota Denpasar Bali dan kurang lebih 950 meter menuju arah barat dari Patung Catur Muka. Jarak tempuh menuju Pura Maospahit ini bila menggunakan kendaraan bermotor kurang lebih 90 menit dari Bandara Ngurah Rai Denpasar Bali.

Seperti namanya Pura Maospahit ini dibangun kira kira pada abad ke 14-15 masehi pada masa kekuasaan kerajaan Majapahit, pura ini memiliki kekhasan arsitektur jawa timur, dilihat dari karakteristiknya pura ini adalah pura milik keluarga tergolong sebagai Pura Kawitan. Ini terlihat dari relief yang terpahat di gerbang dan bangunan pura, adapun relief tersebut:

Bentuk bangunan Pura Maospahit tidak terlalu besar, namun mempunyai beberapa keistimewaan. Pura ini terdiri dari dua halaman, yakni halaman depan/jabaan dan halaman belakang/jeroan. Halaman belakang atau jeroan merupakan halaman utama. Susunan yang demikian mirip dengan candi-candi Jawa Timur.

Saat akan memasuki halaman depan terdapat gerbang dalam bentuk candi belah atau candi bentar, sebelum menuju halaman belakang terlebih dahulu melewati kori agung dalam bentuk paduraksa. Saat sampai pada bagian halaman belakang pura terdapat berbagai bangunan dan benda-benda suci dalam bentuk tajuk, gedong, bale, padmasana, pelinggih, kori dan lain-lain.

Selain benda benda tersebut diatas, ada beberapa bangunan atau benda suci yang jauh lebih penting, karena merupakan peninggalan zaman prasejarah yang tidak ternilai  bila ditinjau dari sudut arkeologis, adapun benda benda tersebut:

Meja batu
Meja batu ini terbuat dari batuan jenis tuva breksi, monolit berwarna hitam, berbentuk bulat, berkaki, bercerat terletak di atas bebatuan. Bebatuan itu berhiaskan kepala banaspati, bunga teratai, gajah. Di samping meja batu terdapat pedupaan.
Meja batu semacam ini tidak umum terdapat pada pura, asal konteks budaya dan periodenya lain justru lebih tua yakni masa prasejarah.
 

Prasada
Prasada yang termasuk bangunan pokok bagi suatu pura terdapat di pura Masopahit Tatasan ini. Denahnya segi empat bujur sangkar, terdiri atas kaki, badan dan atap yang makin ke atas makin meruncing serta bertingkat-tingkat. Bahannya dari batu-bata, batu padas, dan batu karang. Bata pada pura ini berukuran lebih besar dan lebih kuat dari pada bata sekarang. Jenis bata demikian disebut bata tipe Majapahit. Di jawa prasada seperti ini disebut candi. Prasada yang tingginya 7,60 m dan berdenah 2,20 x 2,20 m itu mempunyai ruang badannya (garbhadhatu), pintunya terbuat dari kayu. Hiasannya berbagai pepatraan dan kekarangan. Hiasan yang istimewa adalah porselin berupa piring-piring dan mangkuk-mangkuk yang dimasukkan kedalam lekukan pada permukaan kulit prasada. Hiasan semacam ini di Jawa tidak umum untuk candi tetapi terdapat pada bangunan-bangunan istana dan pemakaman pada masa awal perkembangan agama Islam.

Pintu dengan gambar-gambar singa, burung, kepala raksasa dan bingkai pintu sendiri, sering ditafsirkan sebagai candra sangkala yang menunjuk pada angka tahun 1295 Saka atau 1373 M.

Batu Pesiraman
Pepalungan batu ini ditaruh di sebelah barat laut meja batu. Bentuknya agak lonjong ditempatkan di atas bebaturan bata yang rendah. Menilik bentuk dan bahannya batu pesiraman ini adalah dolmen dari tradisi megalitik juga.

Kolam
Kolam yang terdapat pada halaman belakang ini diasosiasikan dengan lautan susu tempat bersemayamnya tirta amerta atau menurut keyakinan masyarakat setempat berfungsi sebagai tempat pemandian bidadari.

Menurut peraturan cagar budaya, bangunan kuno seperti Pura Maospahit termasuk monumen hidup (living monument), pemerintah dalam hal ini Depdikbud, Ditjenbud, Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala melalui UPT Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Propinsi Bali telah melakukan pemugaran. Sedangkan pemeliharaannya diserahkan kepada masyarakat setempat, khususnya penyungsungnya yang menggunakan sebagai tempat ibadah. Di samping itu juga dapat digunakan sebagai sasana wisata budaya sepanjang tidak bertentangan atau mengganggu kepentingan keagamaan. Hal-hal ini tentunya dapat diatur sebaik mungkin.(Indra)

Saat ini Pura Maospahit  dirawat dan dipelihara oleh lebih kurang 20 kepala keluarga, mereka juga bertugas mempersiapkan piodalan jatuh pada saniscara paing sasih kelawu. (Artikel dari berbagai sumber)

Komentar