Pura Langgar

Kerukunan umat beragama telah ada sejak berabad-abad lamanya, dimana para pemeluk agama yang berbeda hidup berdampingan dan saling menghormati. Salah satu bukti tentang itu adalah adanya sebuah pura yang bernama Pura Langgar atau dikenal juga dengan nama lain yaitu Pura Dalem Jawa Penataran Agung. Pura ini tepatnya berada di Desa Bunutin, Bangli, Kabupaten Bangli. 

Pura Langgar ini menyimpan cerita yang menarik dengan bentuk yang unik tentang keberadaan budaya islam yang masuk ke Bali. Pura ini memiliki ciri tersendiri yaitu bentuk bangunan yang menyerupai seperti  langgar  atau tempat ibadah bagi umat Islam. Pura Langgar berdiri diatas kolam besar yang dipenuhi oleh bunga teratai.

Adapun bentuk bangunan pura ini juga memiliki keunikan yakni pada halaman utama terdapat bangunan segiempat yang memiliki empat pintu, dua undakan serta atapnya  bertingkat dua yang konon katanya melambangkan syariat dan tarikat Islam.

 Di Pura Langgar pelaksanaan pemujaan berbeda dengan pemujaan di pura lain pada umumnya, dimana hewan yang digunakan untuk sesajen tidak menggunakan daging babi namun diganti dengan daging ayam dan itik. Selain itu, pura ini pun melaksanakan pemotongan hewan kurban layaknya seperti pada hari raya Idul Adha yang dilakukan oleh umat Islam hanya saja pelaksanaannya dilakukan sehari sebelum hari raya nyepi atau sekitar bulan Februari.  Pura Langgar memang menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu namun banyak juga umat Islam yang datang kesini untuk berziarah dan melihat secara langsung keunikan pura ini.

Menurut cerita, Pura Langgar berdiri karena adanya keterkaitan sejarah antara Kerajaan Bunutin dengan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi, Jawa Timur dimana Raja Bunutin Ida I Dewa Mas Blambangan masih merupakan keturunan Raja Blambangan yang jatuh sakit setelah dinobatkan menjadi raja. Beliau menderita sakit yang tak kunjung sembuh  selama lima tahun, melihat hal ini adik sang raja berinisiatif melakukan “dewasraya” di Mrajan Agung yaitu melakukan yoga semedhi melalui seorang perantara (balian), yang mana pada akhirnya setelah melakukan ritual khusus dia kerasukan dan berucap sebagai sabda Ida Bathara: “wahai Mas Blambangan, Mas Bunutin, dan semua yang ada disini. Aku Dewaning Selam yang bernama Tuhan Allah minta dibuatkan pelinggih Langgar tempatmu bersembahyang kepadaKu. Jika tidak menuruti permintaanKu maka akan terus menerus secara turun temurun akan menderita sakit berat tapi tidak akan mati”. Jika ada yang menolak permintaan ini, dia tidak akan bertahan menghadapi penderitaan lahir batin malah akan mendapat musibah. Ucapan Ida Bathara tersebut menjadi suatu alasan dibuatnya pura ini.

Pura ini dilengkapi juga dengan beberapa fasilitas seperti; tempat wudhu dan sholat bagi umat Islam, toilet dan area parkir.

Untuk mencapai lokasi pura ini, anda membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit atau sekitar 32 km dari Kota Denpasar Bali.

Indahnya kerukunan antara umat beragama dapat anda lihat di Pura Langgar ini, semoga perdamaian terus tercipta di negeri ini.

Komentar