Pura Kebo Edan

Pura Kebo Edan adalah tempat pemujaan Hindu Tantrayana yang secara administratif terletak di Dusun Intaran, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar. Pura ini berada diperbatasan Desa Bedulu dan Desa Pejeng.

Pura Kebo Edan berada diantara area persawahan dan pemukiman penduduk Desa Pejeng yang mana diselatan dan baratnya terdapat saluran air sawah dan persawahan Subak Bedulu serta dibagian utara terdapat persawahan Subak Pegending. Didalam Pura Kebo Edan ini terdapat beberapa arca yang menjadi peninggalan sejarah penting  yaitu;

  1. Arca Bhairawa Siwa, arca yang melukiskan sosok Bhairawa sedang menari diatas mayat manusia dengan bentuk badan yang besar, tinggi, kekar dan berambut ikal dengan memakai topeng dan berdiri tinggi kira-kira 3,5 meter. Hal ini lihat dari ciri yang dikenakannya menari dengan membawa ular dikaki dan tangannya. Bhairawa termasuk dalam aliran Tantrayana niwerti karena mengikuti hawa nafsu untuk mencapai kebebasan dan kepuasan duniawi.
  2. Arca kerbau berjongkok, arca yang menggambarkan kerbau berjongkok.
  3. Arca Bhairawa Raksasa, arca yang unik dengan mata melotot, hiasan yang dipakai berupa tengkorak sambil membawa mangkok yang juga berhiaskan tengkorak.  
  4. Arca Ganesa atau Batara Gana.
  5. Arca Nandi.
  6. Arca Gajah.
  7. Batu-batu alam dan
  8. Arca Gana atau Pendukung tiang

Sampai saat ini, belum ada bukti otentik  yang mengungkap sejarah  Pura Kebo Edan karena belum ditemukannya sumber-sumber tertulis , namun demikian adanya peninggalan purbakala terutama arca-arca  yang terdapat di Pura Kebo Edan ini dapat dijadikan bukti yang berguna. Pura ini merupakan peninggalan dari abad XIII masehi yang menjadi salah satu bukti bahwa ajaran Hindu Tantrayana berkembang di Bali. Ajaran Tantrayana dianut oleh Raja Kediri Jawa Timur di abad ke 13 memperluas kekuasaannya sampai Bali. Raja Kertanegara mengangkat wakilnya di Bali bernama Kebo Parud dan saat itu pula agama Hindu di Bali mendapat pengaruh Hindu Tantrayana. Nama Kebo Edan yang berarti kerbau gila kemungkinan diambil dari sepasang arca kerbau yang terdapat dipura ini. Dua arca kerbau ini digambarkan tengah melihat dengan marah kearah arca Siwa Bhairawa yang sedang melakukan praktek ajaran Bhairawa dengan menempuh jalan niwerti untuk mencapai tujuannya, yaitu memuaskan hawa nafsu hingga mabuk.

Banyaknya area persawahan disekitar Pura Kebo Edan ini menandakan  bahwa sebagian besar penduduk Dusun Intaran bermata pencaharian sebagai petani, walau demikian ada juga yang berdagang dan menjadi pegawai.

Dengan dijadikanya Pura Kebo Edan sebagai salah satu objek wisata di Bali, maka dibuatlah fasilitas-fasilitas  untuk kenyamanan wisatawan yaitu; toilet,  parkir serta tempat penyewaan kain dan selendang yang merupakan pakaian wajib yang harus dikenakan bila masuk ke pura. 

Pura Kebo Edan berjarak tempuh kira-kira 17,4 km dari Kota Denpasar yang cukup ditempuh dalam waktu 45 menit jika anda ingin mengunjunginya.

Komentar