Pura Gunung Kawi

Pura Gunung Kawi adalah salah satu daerah tujuan wisata budaya yang sangat menarik. Obyek wisata ini memiliki nilai sejarah yang tinggi dan merupakan salah satu lingkungan pura yang ditetapkan sebagai situs kepurbakalaan. Daya tarik dari Pura Gunung Kawi ini karena terdapatnya bangunan bekas peninggalan raja-raja Bali kuno, termasuk candi-candi yang dipahat atau diukir langsung pada sisi tebing batu di sekitarnya. Kawasan obyek wisata ini pertama kalinya ditemukan sekitar awal tahun 1910 dan terbagi menjadi 2 karena dipisahkan oleh Sungai Pakerisan. Setiap pengunjung yang ingin mengunjungi Pura Gunung Kawi, dari areal parkir harus melewati tangga turun, yang di sekelilingnya dapat melihat indahnya persawahan yang bentuknya bersusun. Bila merasa lelah pengunjung dapat beristirahat sejenak di warung-warung yang ada di sekitarnya. Sampai pada dasar tangga, pengunjung akan memasuki lorong batu yang konon dibuat dengan cara membelah batu besar itu dan lorong tersebut merupakan pintu masuk menuju situs purbakala dan Pura Gunung Kawi.

Mengenai asal usul nama Gunung Kawi belum dapat diketahui secara pasti. Namun secara etimologi "Gunung Kawi" berasal dari kata "Gunung", yang berarti daerah pegunungan dan "Kawi", yang artinya pahatan, sehingga "Gunung Kawi" dimaksudkan sebagai pahatan yang terdapat di pegunungan atau di atas batu padas. Sedangkan tulisan yang terdapat di pintu masuk situs, berbunyi "haji lumah ing jalu" yang diartikan "Sang Raja dimakamkan di Jalu" (sama dengan susuh dari ayam jantan yang bentuknya sama dengan "kris"). Sehingga tulisan "Ing Jalu" ditafsirkan sebagai petunjuk "Kali Kris" atau Sungai Pakerisan. Pahatan candi pada dinding tebing batu tersebut memiliki beberapa makna dan fungsi, baik yang berada di sisi barat, maupun sisi timur Sungai Pakerisan. Menurut beberapa sumber, pahatan-pahatan yang membentuk candi-candi mengilhami penamaan atas kawasan ini. Ada yang menyebutkan, bahwa kata "ukiran" dalam bahasa Jawa Kuno adalah "Kawi" karena adanya candi yang diukir di dinding tebing dan berada di pegunungan, sehingga pura yang berada di kawasan ini disebut Pura Gunung Kawi. Secara keseluruhan, pahatan candi-candi pada dinding tebing di kawasan ini terbagi menjadi empat komplek.

Komplek pertama terdiri dari 5 candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang berada di sisi timur sungai. Pada pahatan candi yang ada di sisi paling utara terdapat tulisan "Haji Lumah Ing Jalu". Dari tulisan ini, disebutkan bahwa candi di sisi paling utara merupakan istana pemujaan roh suci dari Raja Udayana. Sedangkan candi yang berada di sebelahnya merupakan istana untuk keempat permaisuri dan putra-putranya, Marakata, serta Anak Wungsu.

Komplek kedua terdiri dari 4 candi yang dipahat berderet dari arah utara ke selatan pada tebing yang berada di sebelah sisi barat sungai. Menurut seorang ahli arkeolog dari Belanda yang bernama Dr. R. Goris, menyatakan bahwa 4 deretan candi tersebut berfungsi sebagai kuil (padharman) bagi keempat permaisuri raja.

Komplek ketiga merupakan bangunan berupa biara (wihara) tempat para bhiksu Budha dengan ceruk (rongga besar) yang dipahatkan pada tebing dan terletak di sebelah selatan dari komplek pertama.

Komplek keempat merupakan sebuah candi dengan ceruk yang berfungsi sebagai tempat pertapaan dan letaknya sekitar 220 meter dari komplek kedua.

Keberadaan situs purbakala Gunung Kawi tidak terlepas dari pahatan candi tersebut yang menunjukkan bahwa Pura Gunung Kawi dibuat pada sekitar abad ke-11. Hal itu dapat dibuktikan dari tulisan "Haji Lumah Ing Jalu", yang merupakan bentuk tulisan yang lazim digunakan pada kerajaan-kerajaan di Jawa Timur sekitar abad ke-11. Ketika itu pemerintahan yang berkuasa adalah Raja Marakatapangkaja, sehingga banyak pendapat yang mengatakan bahwa kompleks Pura Gunung Kawi dibangun oleh Raja Marakatapangkaja dan diselesaikan oleh Raja Anak Wungsu. Sebagai salah satu bukti, Raja Anak Wungsu yang menyelesaikan pembangunannya adalah adanya makam abu Raja Anak Wungsu. Selain itu, terdapat pula makam Raja Udayana, raja dari dinasti Warmadewa yang memimpin kerajaan terbesar di Bali. Makam abu kedua raja itu berada di balik pahatan candi dinding. Dengan adanya makam itu, maka kompleks Pura Gunung Kawi disebut pula sebagai makam Dinasti Warmadewa. Beberapa sumber keterangan dari warga di sekitar Pura Gunung Kawi menyebutkan bahwa pahatan candi di tebing dibuat oleh Kebo Iwa, tokoh legenda rakyat Bali yang memiliki kesaktian dan kekuatan yang sangat besar. Konon Kebo Iwa membuat pahatan candi-candi pada tebing batu di sekitar Gunung Kawi itu hanya dengan menggunakan kuku tangannya.

Pura Gunung Kawi terletak di Banjar Penaka yang termasuk wilayah Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, yang berjarak sekitar 40 km dari ibukota Denpasar. Sebagai daerah tujuan wisata yang sering dikunjungi wisatawan baik mancanegara maupun nusantara, Pura Gunung Kawi memiliki fasilitas antara lain lahan parkir, warung makan minum, kios-kios cenderamata dan toilet umum. Lingkungan Pura Gunung Kawi sendiri, letaknya di samping komplek pertama candi dan di dalam lingkungan pura ini terdapat bangunan-bangunan pelengkap pura, seperti Pelinggih dan Bale Perantenan. Pura Gunung Kawi ini digunakan oleh umat Hindu pada saat upacara Piodalan yang dilakukan setiap bulan Purnama untuk pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasinya melalui sarana pemerajan, pura, dan kahyangan.

Komentar