Pura Dasar Gelgel

Pura Dasar Gelgel terletak di Desa Gelgel, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung. Kurang lebih 3 km ke arah selatan dari Kota Semarapura. Jarak tempuh bila hendak ke pura ini sekitar 80 km dari Bandara Ngurah Rai Denpasar, kurang lebih 43 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Pura Dasar Gelgel merupakan salah satu peninggalan sejarah Klungkung yang di kenal sebagai pusat kerajaan di Bali. Pura Dasar Gelgel ini berkonsep Kaula Gusti Menunggal yaitu sebagai pemersatu umat Hindu yang ada di Bali dan merupakan Pura Dang Kahyangan Jagat. Pura ini didirikan untuk menghormati Empu Ghana, guru suci yang memiliki peran penting dalam perkembangan agama Hindu di Bali (yoga dan semadi). Di dalam pura ini terdapat tempat memuja Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) serta terdapat juga tempat pemujaan Dewa Pitara (roh suci leluhur) dari empat golongan atau warga, Warga Satria Dalem, Warga Pasek Maha Gotra Sanak Sapta Resi, Warga Pande dan Wangsa Dang Hyang Nirartha. Konon, ketika mereka sedang bersembahyang memuja Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan YME), langsung disaksikan oleh para leluhumya masing- masing, yang juga turut sembahyang.

Seperti pada umumnya Pura-pura di Bali, Pura Dasar Gelgel memiliki tiga mandala yaitu; Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala. Di bagian Nista Mandala terlihat keangkeran pohon beringin besar yang tumbuh sejak berabad-abad lamanya. Saat memasuki Madya Mandala, pengunjung akan melihat bangunan berupa Pelinggih Bale Agung, yang unik dari Pelinggih tersebut panjangnya mencapai 12 meter, di sebelah Bale Pesanekan tempatkan seluruh petapakan dan pratima Pura-pura yang ada di Desa Pakraman Gelgel. Sementara di Utama Mandala terdapat belasan pelinggih di antaranya Meru Tumpang Solas, Meru Tumpang Telu, Padma Tiga dan banyak lagi pelinggih lainnya. Setiap hari raya atau piodalan yang jatuh pada hari Senin Kliwon Wuku Kuningan yang dikenal dengan hari Pemacekan Agung, umat Hindu dari segala penjuru di Bali datang untuk melakukan sembahyang di Pura ini.

Pura Dasar Gelgel dibangun Mpu Dwijaksara dari Kerajaan Wilwatika (Kerajaan Majapahit) pada tahun Caka 1189 atau tahun 1267 Masehi sebagai bentuk penghormatan terhadap Mpu Ghana. Empu Ghana adalah orang suci yang berasal dari Jawa dan datang di Bali pada masa pemerintahan Udayana Warmadewa dan Gunapraya Gharmapatni yang berkuasa pada tahun Caka 910 s/d tahun Saka 933 (tahun 988-1011 Masehi). Empu Ghana merupakan brahmana penganut paham Ghanapatya. Seumur hidup menjalankan ajaran Sukla Brahmacari yakni tidak menjalani masa Grahasta (tidak menikah). Keberadaannya Pura ini berkaitan erat dengan keberadaan Keraton Suwecapura tempo dulu yang juga berada di Gelgel. Saat berdirinya Kerajaan Suwecapura, pura ini dipakai sebagai tempat sembahyang keluarga raja. Sejumlah situs peninggalan Kerajaan Suwecapura masih ada dan tetap dilestarikan sampai sekarang di Pura ini. Pada masa pemerintahan Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460), Pura ini pernah direstorasi dengan mengadakan perubahan secara besar- besaran, meniru bentuk pura di Majapahit. selanjutnya, penyempurnaan pura juga dilakukan penerusnya, Dalem Waturenggong (1560-1550). Atas inisiatip Pendita kerajaan saat itu, Dang Hyang Nirartha, pura ini kemudian dilengkapi dengan Palinggih Padma Tiga, hingga bentuk dan strukturnya lebih kompleks, seperti sekarang ini

Pura Dasar Gelgel dipelihara, dijaga dan dirawat oleh Desa Pakraman Gelgel yang terdiri atas 28 Banjar dan tiga Desa Dinas ( Desa Gelgel, Desa Kamasan dan Desa Tojan).

Untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung terdapat area parkir disekitar Pura Pura Dasar Gelgel ini.

Bila anda berkunjung ke Bali, Pura Dasar Gelgel ini bisa dijadikan salah satu tujuan liburan anda.

Komentar