Museum Neka

Museum Neka adalah museum seni rupa yang dibuat karena kecintaan seorang Wayan Suteja Neka terhadap segala bentuk seni yang ada di Bali. Baik itu seni lukis maupun seni rupa. Museum ini berada di Jalan Raya Campuhan, Desa Kedewatan, Ubud, Gianyar Bali.

Museum Neka terdiri atas enam bangunan yang memajang aneka karya lukis, patung dan keris yang ditata sedemikian apik hingga menjadi satu tatanan yang menarik. pemanjangan karya seni ini dikelompokan berdasarkan thema, gaya dan prestasi sang seniman.

Gedung ini terdiri dari empat bagian ruangan. Ruangan A memamerkan hasil karya seni lukis Bali, mulai dari seni lukis klasik wayang Desa Kamasan yang bertema tradisional yang diambil dari kisah Ramayana, Mahabrata dan legenda dari Jawa dan Bali.  Ruangan B dan C memajang karya seni lukis yang sudah mendapat pengaruh dari barat yang berkembang setelah tahun 1920-an di Ubud,  yang dikenal dengan lukisan gaya Ubud. Pengaruh ini dibawa oleh Walter Spies (Jerman) dan Rudolf Bonet (Belanda), mereka memperkenalkan teknik pencahayaan, bayangan, perspekti dan anatomi. Sedangkan pada ruangan D, terdapat lukisan gaya Desa Batuan yang menampilkan perspektif rumit dengan pemandangan yang terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Dibuat sebagai ucapan terima kasih karena jasa beliau dalam mengajarkan dan membina seniman di Ubud. Pavilion ini terdiri dari dua lantai, lantai atas memajang lukisan hasil karya Arie Smit dengan berbagai tema dan gaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat serta pemandangan alam dalam bentuk imajinatif. Sedangkan dilantai bawah, dipajang lukisan gaya pelukis muda  seperti Nyoman Cekra, Ketut Soki dan berapa seniman Bali masa kini yang bertema kontemporer, ekspresionisme dan abstrak.

Di gedung ini dipajang arsip photo khusus karya Robert Koke dari Amerika, dengan warna hitam putih tentang keadaan Bali di era tahun 1930-an dan diawal tahun 1940-an sebagai dokumen tokoh seniman tari dan upacara keagamaan.

Adalah seorang pelukis Bali yang mempunyai ciri khas tersendiri dalam berkarya. Hasil lukisan Gusti Nyoman Lempad memiliki ekspresi mendalam pada kebudayaan Bali. Adapun dari ke-18 hasil karya yang dipajang, sepuluh diantaranya adalah lukisan seri Brayut, sedangkan lainnya bercerita tentang kisah Mahabhrata, cerita rakyat, dan kehidupan masyarakat Bali.

Gedung ini terdiri dari lima ruangan yang di dalamnya terpajang hasil karya pelukis modern Indonesia.  Selain hasil karya pelukis modern Bali banyak juga hasil karya pelukis modern yang berasal dari luar Bali yang beraliran ekspresionisme, abstrak, serta realisme. Pada aliran realisme, Abdul Azis menunjukkan kemampuannya membuat lukisan yang tampil secara Trompel’oeil (menipu mata) dalam karyanya yang berjudul “ Saling Tertarik”.

Gedung yang terbagi atas dua lantai ini diperuntukan bagi hasil karya pelukis kenamaan baik itu pelukis Indonesia maupun Luar Negeri. Lantai bawah gedung memajang lukisan karya pelukis-pelukis Indonesia yang menerima anugerah seni dari pemerintah, seperti : Affandi, Soedjono, Srihadi Soedarsono, Widayat, Nasyah Djamin, Bagong Kussudiardjo, Ahmad Sadali serta Abas Alibasyah. Sedangkan di lantai atas dipamerkan lukisan-lukisan hasil karya pelukis ternama Luar Negeri, antara lain: Antonio Blanco, Rudolf Bonet, Miguel Covarrubias, dan lain-lain.

Selain keenam gedung tersebut diatas, Museum Neka juga memiliki sebuah ruangan yang digunakan untuk menyimpan koleksi 272 bilah keris yang dikumpulkan lebih dari 50 tahun. Keris-keris ini merupakan hasil pembuatan para empu di masa lalu dan masa kini dan tertata rapi berdampingan dalam etalase kaca.

Museum Neka dibuat sejak tahun 1976, namun baru diresmikan pada tanggal 7 Juli 1982 oleh Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef.

Dengan dijadikannya Museum Neka sebagai salah satu objek wisata edukasi, maka pihak museum melengkapinya dengan fasilitas ruang tunggu, balai pertemuan, kedai makanan dan minuman, toilet, serta area parkir yang luas.

Untuk mencapai museum ini diperlukan waktu kira-kira 90 menit dengan jarak 41 km dari Kota Denpasar, Bali.

 

Komentar