Goa Air Suci & Goa Ular Suci di Pura Tanah Lot

Kedua gua ini berada di dalam kawasan obyek wisata Pura Tanah Lot yang merupakan keunikan-keunikan lain Tanah Lot. Goa Air Suci letaknya tepat berada di bawah Pura Tanah Lot dan Goa Ular Suci berada tepat di depan Goa Air Suci.

Beberapa penjaga di sekitar Pura Tanah Lot yang berpakaian adat Bali, biasanya akan menawarkan setiap pengunjung untuk masuk dan melihat Goa Air Suci. Gua yang unik ini menghasilkan air suci yang berasal dari tengah laut yang mengalir di bawah batu karang tempat keberadaan Pura Tanah Lot.

Pemandangan di dalam gua yang berukuran panjang sekitar 5 meter ini sangat luar biasa di mana terdapat sebuah patung setinggi sekitar setengah meter berwujud Ida Pedanda Danghyang Dwijendra, seorang pendeta yang melakukan pemujaan di lokasi ini yang tiga ekor naga. Di dalam gua, setiap pengunjung akan ditawarkan untuk mencoba minum air suci atau sekedar membasuh tangan dan wajah. Air suci ini diyakini mempunyai banyak khasiat seperti dapat menyembuhkan beberapa penyakit dan sering juga disebut air kesuburan, karena mampu meningkatkan kemungkinan untuk memiliki anak.

Konon, banyak pengunjung dengan berbagai etnis dan agama yang datang ke gua ini hanya ingin meminta air suci untuk digunakan sebagai penyembuhan orang yang sakit. Setiap pengunjung yang datang di Goa Air Suci tidak akan dipungut biaya, hanya saja terdapat sebuah kotak donasi bilamana ada pengunjung yang berkeinginan menyumbang secara sukarela untuk pemeliharaan tempat ini. Sedangkan Goa Ular Suci berada persis di depan Goa Air Suci, yang di dalamnya terdapat beberapa ular yang dianggap suci karena keberadaannya memang sudah ada dengan sendirinya.

Ular-ular suci yang berada di dalam gua ini adalah ular berwarna Poleng (hitam-putih), yang memiliki panjang rata-rata 1,5 meter dan keberadaannya oleh masyarakat setempat diyakini milik dewa yang bersemayam di tempat ini. Konon, ular-ular poleng tersebut berasal dari potongan-potongan sabuk atau stagen Saci Dewi yaitu saktinya Dewa Indra. Menurut legenda masyarakat setempat, kisahnya berawal dari Saci Dewi yang turun ke bumi hendak berbelanja di pasar dekat Alas Kendung (saat ini dekat Pura Pakendungan). Pada saat itu Saci Dewi dalam keadaan mengandung.

Setelah berbelanja di pasar tiba-tiba beliau merasa perutnya sakit dan berusaha istirahat di suatu tempat. Sementara itu ada seseorang yang bernama Kaki Tua yang memperhatikan beliau dan merasa kasihan melihat seorang gadis sedang mengandung yang kesakitan. Kaki Tua menghampiri Saci Dewi dan membantunya dengan penuh keprihatinan. Selang beberapa waktu akhirnya gadis itu melahirkan dua anak buncing. Bayi yang lahir pertama adalah perempuan dan bayi yang kedua laki-laki serta mereka diberi nama Rare Cili Roro. Setelah merasa agak membaik, Saci Dewi berkeinginan pulang ke Pura Luhur Kedaton dan sebelum pergi Saci Dewi berpesan pada Kaki Tua untuk merawat kedua anaknya dengan baik serta memberitahukan bahwa dirinya adalah Saci Dewi yaitu saktinya Dewa Indra. Kaki Tua menyetujui untuk merawat kedua bayi tersebut. Kedua anak itu ternyata sangat cerdas dan memiliki keistimewaan dan kesaktian terutama anak yang laki-laki Pada suatu hari, ketika mereka sudah menjadi dewasa, mereka memohon kepada Kaki Tua untuk mengantarkan mereka menemui ibunya.

Dari permohonan kedua anak tersebut ada salah satu pertanyaan yang membuat Kaki Tua merasa aneh, lucu dan tidak percaya sehingga Kaki Tua hanya tertawa saja. Akhirnya Rare Cili Roro membalikkan jalan-jalan burung di atas sehingga burung-burung itu berjatuhan. Melihat banyaknya burung yang berjatuhan, Kaki Tua merasa percaya dengan kehebatan dan kesaktian Rare Cili Roro. Saat itu juga Kaki Tua mengantarkan mereka menemui ibunya ke Pura Luhur Kedaton. Setelah bertemu ibunya, kedua anak itu memohon pada Saci Dewi agar dibuatkan rumah untuk tempat tinggal buat mereka. Saci Dewi menyanggupi permintaan tersebut dan meminta kepada Kaki Tua untuk segera membangunnya.

Akhirnya mereka bertiga kembali ke tempat kelahirannya di Alas Kendung. Rare Cili Roro laki menyuruh Kaki Tua untuk segera membangun rumah untuk dirinya dalam waktu sehari saja. Rare Cili Roro laki memberikan rajah manik Astagina pada lidah si Kaki Tua agar dapat menyebutkan mantra untuk bisa membangun rumah dengan segera. Akhirnya berdirilah rumah tempat tinggal Rare Cili Roro laki di Alas Kendung yang sekarang menjadi Pura Luhur Pakendungan. Sedangkan rumah tempat tinggal Rare Cili Roro perempuan ternyata Pura Tanah Lot yang sekarang. Dan ular-ular poleng tersebut, berasal dari potongan-potongan sabuk stagen yang merupakan hadiah Saci Dewi kepada anaknya Rare Cili Roro perempuan, yang diberikan pada saat mereka menemui ibunya. Ular-ular poleng itu bertugas untuk menjaga dan melindungi Rare Cili Roro perempuan.

Komentar