Upacara Med Medan

Upacara Med Medan diadakan sehari setelah Hari Raya Nyepi  sore harinya yaitu pada hari Ngembak Geni  menyambut tahun baru Saka, Med Medan ini yang sudah ada selama puluhan tahun yang lalu, dan masih terus laksanakan dan dilestarikan sampai saat ini. Tempat perayaan upacara ini berlangsung didesa Sesetan yang  terletak di Banjar kala 3 km dari Ibukota Denpasar Bali.

Med Medan mengandung pengertian dalam bahasa Bali nya berasal dari kata omed-omedan yang artinya tarik tarikan, asal mula upacara cara Med Medan ini tidak diketahui dengan pasti kapan diadakannya  hanya kebiasaan,namun sudah menjadi tradisi secara turun temurun juga merupakan salah satu warisan budaya yang tak ternilai harganya.

Menurut cerita pada waktu itu Med Medan berlangsung pada saat Hari Raya Nyepi, di karena seorang tokoh puri (Ida Bhatara Kompiang), sakit keras maka dihimbau seluruh penduduk desa Sesatan untuk tidak ribut rebut di depan Puri, pada saat hari Nyepi  tiba karena sedih dan kecewa akibat larangan tersebut, ada beberapa warga yang melanggar dan tetap mengadakan Med Medan  karena sudah menjadi warisan dari nenek moyang mereka, mendengar larangan di langgar toko Pura yang sakit tersebut marah dan minta diantar depan Puri, pada saat tokoh Pura diantar keluar Puri, sakit yang semula parah dirasakan nya beransur ansur berkurang dan pas tokoh Puri tersebut tepat  berada di tempat keramaian yang diadakan oleh warga, sakit nya hilang sama sekali dan badannya merasa sehat seperti sediakala. Sejak itu tradisi Med Medan kembali di teruskan dan dilaksanakan seperti semula.

Di tahun 1980-an karena adanya pengaturan, penataan dan pembinaan terhadap Umat Hindu secara professional oleh Parisada Hindu Dharma pusat, Hari Nyepi dilaksanakan selama 24 jam (dari pagi sampai besok paginya lagi), baru besoknya hari ngembak geni dirayakan sesuai  dengan isi Aspek Aspek Agama Hindu I-XV (Proyek pengadaan Prasarana dan Sarana kehidupan Beragama, 1991/1992 : 10-12). Jadi hari ngembak geni sejak tahun 1980-an diperingati sebagai Hari Raya dengan acara utama Masima Karma atau Dharma Santi, lalu dilanjutkan dengan melaksanakan tradisi Met Metan. Pada Tahun 1984 terjadi lagi larangan diadakannya Met Metan diadakan, dikarenakan ada omongan miring yan tidak mengenakan tentang muda mudi yang berciuman saat upacara dilaksanakan. Walaupun sudah ada pengumuman tersebut masyarakat tetap datang ingin menyaksikan upacara Met Metan tersebut, saat itu entah dari mana datangnya  terlihat dua ekor babi berkelahi sampai berdarah. Salah seorang warga melaporkan ke tokoh Pura (I Gusti Ngurah Oka Putra), saat tiba disana kedua babi yang berkelahi tersebut berhenti dan pergi, setelah itu dilakukan musyawarah dan juga petunjuk orang yang kesurupan di Pura bale Banjar diputuskan Met Metan tetap akan  diadakan.

Sebelum acara berlangsung, dilakukan sembayang bersama dengan para peserta yang ikut dalam perayaan Med Medan. Upacara ini dipimpin oleh Jero Pemangku Pura, lalu mengadakan pemujaan dan menghantarkan persembahan sesuai dengan tradisi yang berlaku, setelah itu memercikan tirtha amerta (symbol anugerah Hyang Widhi) dan memberikan beberapa butir beras yang sudah di basahi dengan air pura, ditempelkan antara 2 alis dan diatas dada.

Peserta Med Medan ini terdiri 2 kelompok  pria 40 orang dan wanita 60 orang (umur 16 s/d 21 tahun) dengan terlebih dahulu didata, sisa peserta akan di cadangakan untuk tahap berikutnya. Ketua kelompak ditempat kan di posisi depan lalu anggota yang ada dibelakang memegang pinggang temannya yang didepan. Cara pelaksaan Med Medan ini tarik tarikan menggunakan tangan kosong antara pria dan wanita dan diserami air, bila disirami air itu bertanda sudah selesai. Acara ini diselenggarakan hingga jam 17:00 waktu setempat.

Penutupan acara masima karma dan Med Medan ini dilakukan oleh kelian banjar dengan tidak lupa mengucapkan terimakasih atas partisipasi yang sudah mensukseskan tradisi Med Medan. (I Made Munggah)

Dari cerita diatas dapat simpulkan,sebagai manusia kita wajib menjunjung tinggi nilai nilai tradisi dan budaya yang sudah diwariskan agar tidak hilang ditelan masa dan peradaban.

Bagi anda yang ingin menyaksikan upacara yang menarik ini, sebaiknya anda datang ke Bali, karena ada hal hal yang lebih unik saat anda menyaksikan langsung, yang tidak disebutkan dalam artikel ini.

Komentar