Upacara Madiksa

Upacara Madiksa bertujuan meningkatkan kesucian diri secara lahir batin dari seorang Welaka (orang biasa) menjadi orang suci (Pendeta/Sulinggih), upacara Madiksa termasuk dalam upacara Rsi Yadnya, sementara Rsi Yadnya sendiri mempunyai pengertian upacara pengorbanan suci, sebagai perwujudan ungkapan rasa terima kasih kepada para guru atau Maha Resi yang telah mengajarkan ilmu agama, pengetahuan suci maupun yang memimpin upacara.

Madiksa bisa disebut juga Madwijati. Seseorang yang sudah menjadi Pendeta/Sulinggih harus melaksanakan amalannya sehingga kesucian nya benar benar meningkat, juga harus selalu melaksanakan kewajibannya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Rohaniwan atau Pendeta/Sulinggih tergolong dwijati, yang dalam istilah bahasa Indonesianya di sebut pendeta, kata dwijati berasal dari bahasa sangsekerta, dwi artinya 2 dan jati berasal dari berakar kata ja yang artinya lahir. Lahir pertama dari kandungan ibu dan kelahiran kedua dari kaki Sang Guru suci yang disebut Nabe, jadi Upacara Madiksa ini bermakna seseorang yang dilahirkan kembali untuk di jadikan pemimpin suci bagi umat Hindu di Bali,

Dalam kepercayaan umat Hindu di Bali mengenal empat tahapan hidup yang disebut Catur Asrama. Adapun Catur Asrama itu terdiri dari :

  1. Brahmacari, masa untuk menuntut ilmu.
  2. Grahasata, masa untuk hidup berumah tangga.
  3. Wanaprasta, masa untuk mempelajari ajaran agama secara intensif.
  4. Bhisuka Asrama, masa untuk melepaskannya hidupan duniawi.

Pada tahapan Bhisuka Asmara ini, kewajibannya adalah melayani kepentingan umat secara ritual maupun moral. Menciptakan ketentraman batin untuk menuju kedamaian

Persyarat- syarat untuk menjadi Madiksa:

  1. Beragama Hindu
  2. Laki- laki yang sudah kawin dan yang nyukla Brahmacari.
  3. Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya).
  4. Pasangan suami istri.
  5. Umur minimal 40 tahun.
  6. Paham dalam bahasa Kawi. Sanskerta, Indonesia, memiliki pengetahuan umum, pendalaman intisari ajaran- ajaran agama.
  7. Sehat lahir batin dan berbudi luhur.
  8. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana.
  9. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon Nabe yang akan menyucikan.
  10. Tidak terikat atau bekerja sebagai pegawai negeri ataupun swasta kecuali bertugas untuk hal keagamaan

Proses testing calon Pendeta/Sulinggih dilakukan  oleh Parisadha Hindhu Darma Indonesia (PHDI) lembaga agama Hindu. Proses tanya jawab ini seputar kesediannya menjadi Pendeta/Sulinggih.

Setelah dinyatakan layak, calon Pendeta/Sulinngih dan istrinya melakukan sembah pamitan pada keluarga yang lebih tua. Sembah pada keluarga ini adalah sembah terakhir kepada orang lain, karena di kemudian hari seorang Pendeta/Sulinggih tidak boleh menyembah si apapun yang masih Walaka (orang biasa)

Upacara Madiksa ini dipimpin oleh seorang Nabe di lakukan di Pura,pelaksanaan bisa kapan saja,. di awali dengan acara Matur Piuning atau mohon ijin pada Nabe untuk dibimbing dan dijadikan murid. Setelah dinilai cukup mendapat pendidikan, Nabe menyatakan upacara madiksa dapat dilakukan pada hari baik yang ditentukan.

Sehari sebelum upacara Madiksa, calon Pendeta/Sulinggih melakukan upacara Nyekes dengan puasa dan berdiam diri di rumah sehari penuh. Untuk perenungan, meditasi,  pemahaman diri, mendekatkan diri kepada Sang Pencipta sebelum menapaki jalan kerohanian menjadi Pendeta/Sulinggih

Calon Pendeta/Sulinggih ini dilantik terlebih dahulu melakukan penyucian fisik yang dipimpin oleh Nabe dan disaksikan oleh Guru Saksi, lalu mengenakan pakaian serba putih sebatas dada, saat di depan Padmasana (tempat bersembahyang), calon Pendeta/Sulinggih ini  melakukan sembahyang sebanyak 12 kali, dilanjutkan proses Ngaskara yang dipimpin Nabe sebagai simbol Dewa Siwa (dewa pelebur dosa). Dalam suasana penuh keheningan, Nabe membacakan doa agar nantinya mantra yang diucapkan calon Pendeta/Sulinggih ini mempunyai kekuatan magis. Selanjutnya Nabe memberikan petuah terakhir untuk dijadikan pegangan dalam melaksanakan kewajiban sebagai pemimpin agama, di akhiri dengan pemberian nama baru bagi calon Pendeta/Sulinggih itu.

Setelah selasai upacara, Pendeta/Sulinggih yang sudah di lantik,  di tandu  dan diarah mengelilingi lingkungan Pura, masyarakat yang menyaksikannya berbaris berjajar disini kanan jalan, mereka mengatupkan tangannya di dada, tanda hormat pada pemimpin umat baru. Pendeta/Sulinggih di atas tandu membalas dengan sikap tangan Amukti Angranasika, tanda awal mulainya perjalanan hidup baru. Meninggalkan kefanaan dunia.

Dari pemaparam di atas dapat disimpulkan, jodoh, rezeki, nasib dan takdir kita semuanya berpulang pada sang Pencipta, yang pasti berbuatlah baik selagi kita hidup didunia, buatlah hidup ini lebih berarti agar tidak ada penyesalan nantinya.      

(Artikel dari berbagai sumber)

Komentar