Upacara Buda Cemeng Klawu

Upacara Buda Cemeng Klawu atau disebut juga Buda Wage Klawu adalah upacara pemujaan dan permohonan doa agar mendapat rezeki atau dibukakan pintu rezeki, upacara ini juga sebagai ungkapan terima kasih karena telah diberikan kekayaan, kemakmuran dan kesejahteraan kepada manusia dan umat Hindu khususnya. Dewa yang di sembah adalah Ida Betari Rambut Sedana atau dikenal juga sebagai Dewi Laksmi, melalui manifestasinya Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam perkembangannya, upacara Buda Cemeng Klawu ini lebih dikhususkan dalam perwujudan sebagai bentuk simbol uang.

Upacara Buda Cemeng Klawu ini jatuh pada hari Rabu Wage wuku Klawu kalender Bali. Menurut adat istiadat  umat Hindu di Bali meyakini Ida Betari Rambut Sedana/Dewi Laksmi sedang melaksnakan yoga dan di percaya juga pada hari ini tidak diperbolehkan menggunakan uang untuk hal-hal yang sifatnya tidak kembali berupa wujud barang, misalnya membayar hutang atau menabung, karena dipercaya uang/kekayaan tersebut nantinya tidak dapat kembali selamanya dan menghilang oleh sifat tamak/serakah kita sebagai manusia.

Dalam memperingati Buda Cemeng Klawu, umat Hindu di Bali dingingatkan kembali akan keberadaan artha yang ada dalam Catur Purusaartha Artha, Kama, Dharma dan Moksa. Pengertian Artha disini tidak  dalam sebatas kekayaan saja, namun juga mengandung arti dan  tujuan dalam bentuk kemakmuran materi. Artha juga mencakup konsep dalam arti mencapai ketenaran, dan memiliki kedudukan sosial yang tinggi, yang akan berhubungan dengan proses pencapaian dari saatu tujuan yaitu kebenaran. Dalam cara pandang yang lain, Artha ditempatkan juga sebagai salah satu kewajiban seseorang dalam kehidupan untuk mengumpulkan harta benda sebanyak mungkin, namun dengan syarat jangan menjadi serakah, dan bertujuan untuk membantu dan menolong keluarga serta orang lain yang membutuhkannya.

Upacara Buda Cemeng Klawu ini dilakukan oleh seluruh umat Hindu di Bali, terutama mereka yang membuka usaha perdagangan, misalnya pedagang di pasar, pemilik warung, restaurant, jasa keuangan, bengkel, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan yang mengalirkan dana secara cepat dalam menjalankan perusahaaan. Biasanya pada setiap tempat yang digunakan untuk menyimpan uang, diberikan sesajen khusus untuk menghormati Ida Betara Sedana atau Dewi Laksmi sebagai ujud ungkapan rasa terima kasih atas pemberian-Nya.

Menurut kekawin Nitisastra IV.7 ada dinyatakan sebagai berikut: Singgih yan tekaning yuganta kali tan hana lewiha sakeng mahadhana. Tan waktan guna sura pandita widagdha pada mengayap ring dhaneswara. Artinya: kalau zaman kali sudah datang tidak ada yang lebih bernilai daripada uang. Sudah susah dikatakan para ilmuwan, pemberani, orang suci maupun orang yang kuat semuanya pelayan orang kaya.

Dari sumber Susastra Hindu tersebut diatas dapat dipahami bahwa uang itu pada hakikatnya adalah sarana bukan tujuan hidup, jadi tergantung cara manusia menggunakan sarana tersebut. Bila uang tersebut di dapat dan digunakan sesuai berdasarkan konsep ketuhanan maka uang itu amat berguna mengantarkan manusia mendapatkan hidup bahagia lahir batin, namun sebaliknya jika uang tersebut di anggap sebagai tujuan yang dianggap paling bernilai maka uang itu akan dapat membawa kesengsaraan. Karena itu tempatkanlah uang tersebut sebagai alat mewujudkan Dharma/kebenaran/kebaikan. (Drs. I Ketut Wiana, M.Ag)

(Artikel dar berbagai sumber)

Komentar