Upacara Bhuta Yadnya

Upacara Bhuta Yadnya adalah upacara yang di tujukan kepada Bhuta Kala agar jangan mengganggu ketentraman kehidupan manusia di dunia. Umat Hindu di Bali meyakini bahwa Bhuta Kala adalah sebagai kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif yang sering menimbulkan gangguan serta bencana, dengan melakukan upacara Bhuta Yadnya, maka kekuatan-kekuatan  tersebut akan dapat menolong dan melindungi kehidupan manusia. Butha Yadnya sendiri bermakna upacara pengorbanan/persembahan suci yang tulus ikhlas, dengan makhluk- makhluk yang terlihat (sekala) ataupun yang tak terlihat (niskala), yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan, kelestarian dan keselarasan antara jagat raya ini dengan diri kita.

Disamping  itu juga, tujuan Upacara Bhuta Yadnya adalah sebagai permohon kehadapan Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) agar selalu diberi kekuatan lahir bathin, juga untuk menyucikan dan menetralisir kekuatan-kekuatan yang bersifat negatif berubah menjadi kekuatan yang bersifat positif sehingga dapat berfungsi dan berguna bagi kehidupan manusia.

Betapa pentingnya yadnya bagi umat Hindu disebutkan dalam Bhagawadgita, Bab III, 12 dan 13, yang kalau terjemahkan dalam bahasa Indonesia mengandung arti :

Dipelihara oleh Yadnya, para dewa akan memberi kamu kesenangan yang kau ingini. Ia yang menikmati pemberian-pemberian ini, tanpa memberikan balasan kepada-Nya adalah pencuri.

Orang-orang yang baik yang makan apa yang tersisa dari Yadnya, mereka itu terlepas dari segala dosa. Akan tetapi mereka yang jahat yang menyediakan makanan untuk kepentingannya sendiri mereka itu adalah makan dosanya sendiri. (Prof. Dr. I.B.Mantra/Stiti Dharma Online)

Upacara Bhuta Yadnya dapat dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :

  1. Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan kecil seperti segehan dan yang setingkat. Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang kecil/segehan. Dengan banten atau sesajen lauk pauknya yang sangat sederhana terdiri dari Bawang merah, Jahe, Garam dll. Jenis-jenis segehan ini bermacam-macam sesuai dengan bentuk dan warna nasi yang di gunakannya. Adapun jenis-jenisnya adalah Segehan Kepel dan Segehan Cacahan, Segehan Agung, Gelar Sanga, Banten Byakala dan Banten Prayascita.
  2. Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan sedang (madya) yang disebut caru. Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang sedang/madya.Tingkatan upacara dalam tingkatan madya ini di sebut dengan Caru . Pada tingkatan ini selain mempergunakan banten/sesajen lauk pauk seperti pada segehan, maka di gunakan pula daging binatang. Banyak jenis binatang yang di gunakan tergantung tingkat dan jenis caru yang di laksanakan. Adapun jenis-jenis caru tersebut adalah Caru ayam berumbun ( dengan satu ekor ayam ), Caru panca sata ( caru yang menggunakan lima ekor ayam yang di sesuaikan dengan arah atau kiblat mata angin ), Caru panca kelud adalah caru yang menggunakan lima ekor ayam di tambah dengan seekor itik atau yang lain sesuai dengan kebutuhan upacara yang di lakukan, dan Caru Rsi Gana.
  3. Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang besar (utama). Upacara Bhuta Yadnya dalam tingkatan yang besar/utama.Tingkatan yang utama ini di sebut dengan Tawur misalnya Tawur Kesanga dan Nyepi yang jatuhnya setahun sekali, Panca Wali Krama adalah upacara Bhuta Yadnya yang jatuhnya setiap sepuluh tahun sekali, dan Eka Dasa Rudra yaitu upacara Bhuta Yadnya yang jatuhnya setiap seratus tahun sekali. (Dharma Dana)

Demikianlah pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya ini dilakukan, yang pada kesimpulannya manusia harus selalu menjaga hubungan, baik itu dalam kehidupan nyata maupun kehidupan tidak nyata agar terjadi keselarasan dan keharmonisan antara sesama ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. 

(Artikel dari berbagai sumber)

Komentar