Dewa Ganesha

Dewa Ganesha adalah dewa Hindu yang dalam patung dan gambarnya yang terkenal dan dilambangkan dengan bentuk manusia yang memiliki kepala gajah. Selain bernama Ganesha, dewa ini juga disebut dengan Ganapati atau Winayaka. Perpaduan antara manusia dan bentuk binatang gajah ini merupakan simbul dari perlambangan manusia yang sempurna, yang diungkapkan oleh para Rsi Hindu. Pada patung dan gambarnya, Ganesha membawa berbagai benda di tangannya dan beberapa benda yang ada di depannya. Benda-benda tersebut dan juga patungnya adalah simbul utama dari Dewa Ganesha yang melambangkan beberapa pemikiran-pemikiran Hindu yang tinggi dalam kitab Hindu.

Kepala gajah Ganesha yang besar melambangkan kebijaksanaan, pengertian, dan kecerdasan untuk dapat membedakan yang harus dimiliki seseorang untuk mencapai kesempurnaan dalam kehidupan. Mulut yang lebar melambangkan keinginan manusia yang normal (butuh makanan) untuk dapat menikmati kehidupan di dunia Kuping yang besar melambangkan bahwa manusia yang sempurna adalah manusia yang memiliki telinga yang baik untuk dapat mendengarkan orang lain dan mengasimilasikan ide-ide mereka. Belalai dan dua gading yang gading bagian kirinya rusak adalah melambangkan bahwa tidak ada bagian tubuh manusia yang memiliki kekuatan sangat besar dan lebar seperti belalai gajah. Dua gading melambangkan dua sisi dari sifat manusia yaitu kebijaksanaan dan emosi. Gading yang kanan melambangkan kebijaksanaan dan gading kiri adalah lambang emosi. Gading kiri yang rusak ini juga melambangkan bahwa untuk mencapai kesempurnaan, emosi harus dikuasai dengan kebijaksanaan. Dalam mitologi, Ganesha dianggap telah menulis epik Mahabharata dengan gading yang rusak dan didiktekan oleh Rsi Vyasa. Sedangkan mata gajah yang memiliki ketajaman alami melambangkan pemikiran yaitu bila seseorang semakin kaya atau semakin bijaksana, ia harus dapat melihat orang lain lebih besar dari dirinya agar mencapai nilai rendah hati dan kesederhanaan.

Tubuh manusia dengan perut yang besar adalah simbul dari kebaikan dan penyerahan diri pada semua. Tubuh Ganesha biasanya memakai busana merah dan kuning. Kuning melambangkan kemurnian, kedamaian, dan kebenaran. Sedangkan merah melambangkan aktivitas di dunia yang merupakan tugas-tugas manusia di dunia yang dilakukan dengan kemurnian, kedamaian, dan kebenaran. Perut yang besar memiliki arti bahwa manusia sempurna harus mampu menghadapi semua hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan di dunia. Seekor tikus yang duduk dekat kaki Ganesha melambangkan bahwa manusia sempurna harus dapat menguasai egonya. Sedangkan tikusnya melambangkan ego manusia yang dapat memakan segalanya yang baik dan mulia dalam diri manusia. Dan tikus yang duduk dekat makanan itu tetapi tidak memakannya, memiliki arti bahwa ego yang dimurnikan dan terkendali dapat hidup di dunia tanpa dipengaruhi oleh godaan dunia. Selain itu, tikus juga merupakan kendaraan dari Ganesha, yang menandakan bahwa seseorang itu harus dapat mengendalikan ego untuk kebijaksanaan sehingga dapat bersinar.

Umat Hindu yang memuja Dewa Ganesha adalah untuk memohon berkah Tuhan agar dapat mencapai keberhasilan dalam dunia fisik untuk selanjutnya mencapai kesempurnaan. Dewa Ganesha adalah dewa yang harus terlebih dahulu dipuja sebelum melakukan pemujaan kepada dewa atau dewi lain atau perayaan lainnya. Dalam mitologi Hindu, Dewa Ganesha adalah putra Dewa Siwa dan Dewi Parwati (bentuk lain dari Dewi Durga). Dewa ini diciptakan oleh ibunya, Dewi Parwati yang ketika itu hendak mandi namun di tempat kediamannya tidak ada siapapun dan suaminya, Dewa Siwa sedang pergi. Ia menciptakan Ganesha dari lumpur yang terbentuk dari kotoran debu yang melekat di tubuhnya. Setelah itu, Dewi Parwati menyuruh Ganesha untuk menjaga pintu utama kediamannya. Saat Dewa Siwa kembali, Ganesha tidak mengijinkan untuk masuk karena tidak mengenalnya. Dewa Siwa marah karena tidak diperbolehkan memasuki rumahnya sendiri, sehingga ia memotong kepala Ganesha. Ketika Dewi Parwati mengetahui suaminya telah pulang dan memotong kepala Ganesha. Ia memohon kepada suaminya untuk menghidupkan kembali Ganesha dan telah menjelaskan siapa Ganesha. Kemudian Dewa Siwa memerintahkan pelayannya untuk pergi ke hutan dan membawa kepala makhluk yang pertama mereka lihat. Pelayan itu melihat binatang gajah di hutan sehingga memotong kepalanya dan menyerahkannya kepada Dewa Siwa. Lalu Dewa Siwa meletakkan kepala gajah tersebut di atas tubuh Ganesha dan menghidupkannya kembali. Untuk mengembalikan rasa hormat serta harga diri Ganesha, Dewa Siwa menunjuknya sebagai Dewa Keberhasilan dan penghilang dari segala rintangan. Dewa Siwa juga memerintahkan agar Ganesha dipuja pertama kali dalam semua upacara keagamaan sebelum memuja dewa lainnya.

Komentar